WELCOME TO MY LIFE

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA,SEMOGA ANDA TEMUKAN YANG ANDA CARI,SAYA TIDAK BERMAKSUD MENGGURUI, MENUNTUN ATAU MERUBAH.. HNY INGIN BERBAGI, MENGGORES WARNA, MENGHAPUS LUKA..

26 Jul 2017

KESALAHANKU, MENJADIKANMU ALASAN SEGALA RINDU

Pernah bahagia kita merekah indah tanpa sedikitpun gelisah, saat lantunan rindu adalah alasan setiap pertemuan, saat mencintaimu bukan hanya sekedar lamunan. Semurung mendung sederas hujan, mimpiku memuai hebat pada ketiadaan. Aku tak pernah menyesal  akan keputusanmu memilihnya, yang aku sesalkan adalah tiada sedetikpun kesempatan bagiku membuatmu bahagia..

Kesalahanku, menjadikanmu alasan segala rindu..

Waktu pun mengurai tetes hujan menjadi bulirbulir kenangan. Ia menelusup tanpa permisi membasahi nurani. Merangkak naik menyusun kata yang dibicarakan oleh pelupuk, memaksa mata bekerja mengeluarkan kalimat penuh derita. Degub jantung menyatu detik, menyuarakan penyesalan yang runtuh menitik.
Bukan perih yang aku ratapi, tapi pengertian tak pernah kau beri. Sadarlah! Aku telah mencintaimu dengan terengah-engah, mencibir oksigen dengan menjadikanmu satu-satunya udara yang aku izinkan mengisi setiap rongga, menghempas darah dengan namamu yang mengalir membuat jantungku tetap berirama. Padamu aku jatuh hati, bahkan sebelum Tuhan merencanakan Adam dan Hawa diturunkan ke bumi.

Kesalahanku, tak pernah mencintai selain kamu..
Tingkat sepi paling mengerikan, adalah sepi dalam keramaian. Mengulik rasa secara primitif dan tak mengenali dunia telah jauh mengalami perubahan.

Bagaimana mungkin aku menjauh jika hanya padamu keakuanku luluh?

Bagaimana mungkin aku pergi jika bayanganmu masih saja menghiasi mimpi

Bagaimana mungkin aku berpindah bila hanya padamu hatiku bisa singgah?

Bagaimana mungkin?

Bagaimana..

Mungkin..

Kau memilih orang lain?

Detik yang berbaris hanya membuat pengharapan semakin miris. Kau tak bergeming, kau tak pernah menjawab dengan alasan caraku mendambamu terlampau bising. Otakku terus meneriakkan penyesalan sembari bertanya tentang kenapa, pada sikapmu yang terlalu membuat semesta menerka-nerka. Tangkupan tanganku masih saja menggenggam harap untukmu, namun keegoisanmu membuatnya kosong laksana harapan semu.

Kesalahanku, isi doaku tak pernah selain namamu..

Cinta tak selamanya tentang kepemilikan, tapi cinta adalah tentang keikhlasan. Segala rela aku coba tumpahkan, pada rajutan tinta yang menulis namaku dalam undangan pernikahan.

Paling tidak aku pernah merasakan perihnya ditolak tanpa penjelasan. Paling tidak aku pernah menyadari sakitnya mendamba tanpa balaspeduli. Paling tidak, aku akhirnya bisa melihat sosok terbaik yang akan mendampingimu, dan bersanding bahagia berbagi senyuman denganmu.

Terimakasih atas segala rasa
Mencoba ikhlas
Walau air mata pasti mengucur deras

Kesalahanku; Adalah tak pernah merasa, bahwa untukku kau tak pernah punya cinta..

21 Jul 2017

KOPI MANIS TANPA GULA

"Mau ditambah lagi kopinya?” Tegur pelayan kepada pria yang duduk tepat di pojok dekat jendela.. Tempat biasa pria itu bercengkerama dengan kekasihnya.. Seperti ada yang menyendat didadanya, ia pun menjawab lirih.
“Cukup, secangkir saja sudah membuat kenanganku berhamburan ke manamana.” Kemudian, dengan sangat hati-hati, pria itu memunguti remah-remah kenangan yang berhamburan dari sudut ingatannya, sambil sesekali ia menyeka airmatanya. “Mbak, kopi ini sudah sesuai dengan pesanan saya?” “Betul, Pak, kopi ini sudah sesuai<br>
dengan pesanan bapak, secangkir Kopi dengan sedikit gula..” Pria itu tertegun, matanya masih berkaca-kaca ketika melihat secangkir kopi yang berada di hadapannya.

Kali ini, ada yang tidak biasa pada kopi pesanannya, padahal, lidahnya hafal betul dengan kopi manis tanpa gula kesukaan ia dan kekasihnya, rasanya tidak seperti dulu saat ia dan kekasihnya duduk saling berhadapan, persis di meja yang saat ini ia duduki.

Rasanya ada ada yang hilang —dingin dan hambar, bukan seperti dulu saat ia dan kekasihnya saling bertukar debar.

Sepetember tahun kedua, ia dan kenangannya masih duduk di satu meja, sedang tamu-tamu kedai kopi lainnya satu per satu mulai beranjak pergi.

Lihatlah, betapa cinta bisa membuat segala benda dan peristiwa menjadi bermakna. Sebab cinta adalah hal yang tak pernah terselesaikan.

PENULIS : JOS.INF
FACEBOOK : JOS INF
INSTAGRAM : @JOS.INF

23 Jun 2017

SELAMAT JALAN KEKASIHKU, SELAMAT DATANG DIINGATANKU

Sudah akhir bulan Ramadhan berlalu dan belum kutemui wajah manismu mengendap di cangkir kopiku. Tidak ada kemungkinan yang bisa kutakar dari kenangan. Hari berlalu sebagai kesibukan yang menyublim bersama udara untuk menyatu bersama namamu yang masih kuhirup dari masa lalu. Berputar namun tak bergerak. Kau masih menjadi poros dari setiap langkahku yang mulai terbiasa menempuh perjalanan tanpa haluan. Sampai di suatu senja aku teringat es kopi yang diikat karet merah muda sebagai menumu buka puasa, dengan cinta yang kita nikmati dari sedotan yang sama...

Kopi malam ini, pahit yang selalu menemani.

Kubiarkan diriku memaku di hadapan jendela, menatap pola kopi yang tertinggal di bibir gelas, sembari mendoakan tanya dalam pilu.
Apa kabar, kamu?

Di antara lampu kendaraan yang melintas dari balik jendela, aku teringat lingkar tangan kirimu yang memeluk pinggangku pada saat mencari tempat yg pas untukmu berbuka. Tangan kananmu bergerak bebas. Mencubit lenganku, memukul pelan kepalaku dari belakang, juga menunjuk ke sudut-sudut jalan sambil kita berdebat kemana kita akan berhenti. Jujur, bersamamu yang kuinginkan hanyalah melaju. Kemana saja, asal telinga dan mataku berhias senyum dan tawamu. Lalu rengekanmu membuyarkan lamunan dan aku memutuskan untuk menemanimu berbuka di pinggir jalan, sembari menghitung daun-daun gugur dan menikmati kepak sayap burung menghias surya yang tenggelam. Apakah takjil favoritmu masih sama? es buah tanpa irisan roti? Yang dulu pernah kita nikmati, yang kini aku kenang sendiri...

Malam pun kembali menyembunyikan bintang, menandai kau sebagai pusat terang. Menyala di hatiku, hangat, mencairkan rindu yang lama membeku. Mengulang semua cerewetmu sehabis berbuka di kedai kopi kita berbagi bahagia. Membahas gula yang kurang  disetiap cangkir kopiku, atau antrian di tukang es yang lebih panjang dari oktaf suaramu. Kau masih menyanyi, kan? Jangan berhenti, ya. Aku suka mendengar sayup nyanyianmu yang membuatku tetap terjaga saat kita membelah bising jalanan.

Kemudian kau kembali mencubit lenganku berulang kali, memencet hidungku, dan menatap tajam kedua mataku untuk menyampaikan pesan jangan lagi terlambat menjemputmu saat sahur. Aku cuma bisa tertawa menanggapi ketusmu itu, lucu. Entahlah, aku selalu suka melihatmu cemberut. Kau jadi lebih lepas bercerita tentang banyak hal, diselipi tawa yang memenuhi ruangan, kau adalah ratu yang setiap tingkah lakunya selalu kuterima menetap di singgasana. Sebelum akhirnya aku tersadar pipimu yang menggembung saat cemberut itu kini sudah mendarat di telapak tangan yang baru.

"Di sini, kembali, 
kau hadirkan ingatan
yang seharusnya kulupakan,
dan kuhancurkan adanya..."

Bersama secangkir kopi aku menulis kisah ini sebagai ucapan selamat atas rencana pernikahanmu yang tinggal menghitung hari. Terima kasih sudah memberiku ingatan Ramadhan terbaik di masa muda, dan semoga di peluknya kelak kau tetap bisa berbagi kisah. Karena cerewetmu itu yang membuatku betah menikmati waktu.
Semoga kekasihmu mampu memilihkan kopi yang tepat untuk menjadi minuman favoritnya, sebab rasa kopiku yang kau seguhkan, lebih pahit dari empedu.

"Selamat jalan kekasihku, selamat Datang diingatanku"

8 Mei 2017

SEGERA LUPA

Secangkir penyesalan tengah aku paksa memenuhi tenggorokan sebagai perayaan kepergianmu di lain pelukan. Sendiri, meresapi manis yang menguap sebelum tertelan. Membaca satu per satu kebahagiaanmu kini bersamanya, mensyukuri sedikit senyum yang pernah ada.

Waktu yang bersaksi akan sungai deras yang mengalir di pipi, menikmati kecewa bersanding sepi. Sore ini aku ingin minta maaf, bahwa melupakanmu aku belum bisa, dan hatiku masih saja mengeja namamu sebagai satu-satunya rasa.

Dengamu, jatuh cinta adalah kematian yang tinggal menunggu diresmikan Tuhan untuk dikebumikan.

Detik memaksa ingatan untuk bertanya. Menagih candu yang dulu begitu mudah aku menerima, kini kabarmu hanya rintihan duka yang menyimpul di batas hampa. Memukul kepalaku, lebam jiwaku.

Ingin aku pergi mencintai ribuan hati, tetapi semua tentangmu masih saja mengitari. Bayangkan, betapa menyedihkan mencintai tanpa kerelaan, sehingga lebih baik aku menikmati sakit hingga batas perpisahan.

Denganmu, jatuh cinta adalah kematian yang tinggal menunggu waktu.

Sekarang senja hanya menyajikan rona derita, membiaskan warna tanpa cerita. Terseret aku memendam lara pada kebisuan dengan air mata bermekaran. Aku masih bisa, aku masih kuat mencintaimu walau sudah sangat jelas yang kau pilih bukan aku.

Bahkan kesibukanku masih saja merajut rindu dan memintal doa untuk kau kenakan, menjagamu dengan hangat walau dari kejauhan. Dengan sangat sadar dan mengerti, pelukannya lebih istimewa dan bukan sekadar mimpi.

Denganmu, jatuh cinta adalah bahagia yang manisnya terpaksa.

Aku mendambamu bagai deru angin yang mengeringkan keringat, nikmati saja kesegarannya biar jemari pasanganmu yang menjadi sapu tangannya. Remuk jantungku, anggaplah biasa. Namun, jika sampai hilang lingkar peluknya, berdebar dan khawatirlah. Sebab dia bukan aku, yang dengan sangat sadar melukai diri untuk tetap mencintaimu.

Sehat-sehatlah selalu, makan teratur, dan tersenyumlah untuk geliat manja di dalam perutmu. Rumahmu akan dihinggapi malaikat, sambutlah dengan suka cita dan rayakan dengan meriahnya doa.

Bahagiakan dia seperti pasanganmu membahagiakanmu, ajari dia cara tertawa seindah sungging senyumanmu. Kelak aku akan menghampiri dia, bercerita tentang betapa susahnya aku mendapatkanmu.

Karena, denganmu, jatuh cinta adalah keikhlasan terpenjara walau kepadaku yang kau sajikan hanya duka lara.

8 Apr 2017

SEDUH KOPIMU,SUDAHI SEDIHMU

Lihat tepat setelah lampu lampu dipadamkan, kau menyala sebagai satusatunya yg kurindukan.

Disini ditempat yang paling kau hindari, aku pernah berdiri. Menggores kata, menulis warna, pada ratapan panjang yg kau buat dalam dinding kecemasan, aku dipasrahakan pada kenangan yang begitu lapang. Ratak berserakan tanpa kediaman. Terkoyak sepi, melayang diantara pekat aroma kopi.

Dengar, tepat setelah jejak jejak dilangkahkan Kau menyapa sebagai satusatunya yg kunantikan.

Disini dipeluk yang paling kau nikmati, aku masih sendiri mencari kehilangan menemui perpisahan pada letupan kenang yang memuat kekosongan aku membicarakan senyummu dikeindahan yang telah hilang... Hancur berkeping tersapu kesunyian, terinjak lara melarut dalam pahit yang diseduh air mata.

tunggu, santailah sejenak karna tepat setelah mejameja ditinggalkan, kedai ini menyesak sebagai satusatunya keterangan.

Suatu kisah yang pernah kita upayakan, beribu rencana yang pernah kita perjuangkan, lenyapppp....

Kau memutuskan berpindah hati sebelum satupersatu rencana kita berhasil diwujudkan. Menggores kesadaran, menyayat perasaan. Pada setiap kata yang memuat pertaanyaan aku mencari kau yang kurindukan.

Kapanpun sunyi merasuk jiwamu,
Kemarilah. Pesan kopi terpahit sebagai kenangan termanismu.

Genggam kesedihanmu sebagai duka paling bahagia.

Dan bila hatimu butuh didengarkan,
Ajak aku dalam perbincangan, niscaya kopi yang kau pesan takan sepahit kehilangan.

17 Sep 2016

secangkir kopi mendingin

Satu senja pernah kita habiskan dengan diam dihadapan dua cangkir kopi yang semakin mendingin.
dua cangkir beraromakan kepahitan yg terbang menggiring kata bosan yang keluar dari bibirmu, seperti sianida yang
melumpuhkan segala seraf dikepalaku..
Hening membatu, tanpa satu pun suara yang berniat melenturkan lidah kita Untuk mengelabuhi kecewa.
di atas secangkir kopi aku melukis setangkai mawar dengan cream.. Kuletakkan tepat di sebelah kopi wangi melati yang kau pesan dengan hati benci dan segala yang menyakiti.
Sore ini, sekeping kegagalan telah tersaji pekat di atas meja pertengkaran. Dimasak di sebuah dapur yang menyeruakkan wangi bunga-bunga setelah kau mengenal dia.
Sepertinya kita butuh senja lain untuk mengumpulkan percakapan.
Satu sore saja, aku rasa tak akan cukup untuk menampung perbincangan kita yang semakin tajam dan mulai gemar saling melukai.
Aku menyadari bahwa kita hanyalah sepasang permohonan yang tak pernah selesai di hadapan doa.
Sebelum kau dan aku benar-benar paham, Undangan pertemuan adalah perintah takdir untuk kita berpelukan, lalu saling tabah melepaskan.
Ternyata benar apa yang dulu pernah mereka katakan, mencintai saja tidak akan pernah cukup Untuk menyatukan mimpimimpi yg berbeda, dan saat hatimu patah jalan satusatunya adalah menjadi tabah.
Berbahagialah, rebahkan kekagumanmu di dadanya. Jangan lupa satu hal; datanglah kembali ke sini, jika kau butuh sesuatu yang bisa kau lukai.
- Jos Inf -

14 Mar 2016

PULANG

Di bandara seseorang mengenakan mantel yang terbuat dari rindu dan sedu sedan perjalanan.
Mantel tak terlihat tebal tapi tetap membuatnya tampak berat…
Sambil menghitung lalu lalang pesawat, ia letakkan ransel hitam pekat di bawah kursi tunggu..
Kursi baik yang setia menahan pantat dan penat para pengrajin rindu…
Tiba-tiba pengumuman menepuk bisingnya suasana:
“Perhatian perhatian, para penumpang penerbangan tujuan jauh diharapkan segera memasuki pesawat. Kursi yang nyaman telah menunggu anda sekalian untuk melanjutkan tangisan.”
Ia pun berdiri ditarik pergi, pelan-pelan menggenggam status mantan terindah Untuk diterbangkan, mecari jalan pulang yang jauh dari jangkauan tangan sebuah pelukan….

20 Nov 2015

Mencintai dalam kepasrahan


Hanya sebuah sikap diam dan keheningan yang lebih saya pilih..
Diam menunggu sang waktu memberi sebuah moment.
Diam untuk mencatat segala yang terjadi.
Diam untuk memberi kesempatan otak kembali dalam keadaan normal.
Diam untuk mencari sebuah jalan keluar yang mustahil.
Diam untuk berkaca pada diri sendiri dan bertanya “apakah aku cukup pantas?
Diam untuk menimbang sebuah konsekuensi dari rasa yang harus dipendam.
Diam dan dalam diam kadang semuanya tetap menjadi tak terarah..
Dan dalam diam itu pula, saya menjadi gila karena sebuah rasa dan pesona tetap mengalir..
Sayangnya, dalam keheningan dan diam yang saya rasakan,
lebih banyak rasa galau daripada sebuah usaha untuk mengembalikan pola pikir yang lebih logis.
Galau ketika mata terus meronta untuk sebuah sekelibat pandangan.
Galau ketika mulut harus terkatup rapat meski sebuah kesempatan sedikit terbuka.
Galau ketika mencintai menjadi sebuah pilihan yang menyakitkan
Galau ketika mencintai hanya akan menambah beban hidup
Galau ketika menyadari bahwa segalanya tidak akan pernah terjadi
Galau ketika tanpa disadari harapan terlanjur membumbung tinggi
Galau ketika semua bahasa tubuh seperti digerakan untuk bertindak bodoh.
Apakah mencintai seseorang senantiasa membuat orang bodoh? Tentu tidak.
Dalam kelelahan, diam dan kegalauan yang saya rasakan selama ini, ada rasa syukur atas berkat dari Sang Hidup atas apa yang saya alami.
Syukur ketika rasa pahit menjadi bagian dari mencintai seseorang.
Syukur ketika berhasil memendam semua rasa untuk tetap berada pada zona diam.
Syukur untuk sebuah pikiran abnormal namun tetap bertingkah normal.
Syukur ketika rasa galau merajalela tak terbendung.
Syukur ketika rasa perih tak terhingga datang menyapa.
Syukur karena tak ditemukannya sebuah nyali untuk serius mengatakan “Aku mencintaimu"
Syukur ketika perasaan hancur lebur menjadi bagian dari mencintai.
Syukur ketika harus menyembunyikan rasa sakit dan cemburu dalam sebaris ucapan “aku baik2 SJ" Syukur atas rahmat hari yang berantakan akibat rasa pedih yang teramat dalam.
Akhirnya, bagi saya, keputusan untuk mencintai melalui sebaris doa menjadi pilihan yang paling pantas.
Setidaknya, mencintai secara tulus melalui doa, dalam tradisi agama yang saya anut, akan menjadi lebih bermakna,
karena saya diteguhkan oleh berkat atas segala rasa perih yang senantiasa ada didalam diri.
Dalam doa, akhirnya, semuanya kita kembalikan kepada Sang Hidup..
Bahwa mencintai seseorang itu seperti memanggul sebuah salib.
Bahwa terkadang akal dan perasaan campur aduk tak tentu arah.
Bahwa saya juga bukan manusia super..
Bahwa saya juga tidak bisa berlaku pintar sepanjang waktu, setiap hari.
Bahwa saya juga punya kebodohan yang kadang susah untuk diterima akal sehat.
Bahwa dengan segala kekurangan yang ada, saya berani mencintai..
Bahwa saya bersedia membayar harga dari mencintai seseorang..
Bahwa saya bersedia menanggung rasa sakit yang luar biasa..
Bahwa saya mampu untuk tetap hidup meski rasa perih terus menjalar..
Bahwa saya masih memiliki rasa takut akan kehilangan dalam hidup..
Dan hari ini, dari semua pembelajaran yang telah saya terima,
Berkembang menjadi sebuah bentuk KEPASRAHAN.
Sebuah Zona yang terbentuk karena saya merasa tidak berdaya.
Dimana saya merasa tidak memiliki kemampuan untuk membuat segalanya menjadi mungkin.
Dimana saya tidak berani untuk membangun sebuah harapan
Dimana saya tidak berani untuk serius mengatakan “Aku mencintaimu, mari kita pastikan segalanya, dan semuanya, hanya untuk kita berdua saja..
Dan ini adalah pilihan terakhir yang saya miliki,
Mencintai dalam kepasrahan, tanpa berharap dan tanpa meminta.
Meski sangat susah dan hampir mustahil bagi saya untuk tidak mengingatnya.
Semoga saya bisa.
Dan hingga hari ini, saya masih mencintainya
Saya sadar hal itu akan memberi rasa perih yg teramat dalam
Karena bagi saya, lebih susah untuk tidak mencintainya.
Saya sadar ini adalah sebuah salib yang harus saya pikul.Dalam perjalanan yang melelahkan, dalam diam dan keheningan
Dan tentunya dalam sebuah KEPASRAHAN yang teramat dalam.

14 Agu 2015

KEWAJIBAN DALAM BUDAYA MAUPONGGO (TI'I PATI)

Berita kematian, pemberitahuan tentang kegiatan adat seperti pernikahan, bangun rumah, pesta-pesta baptis dan terutama komuni pertama, semuanya bukan sekedar berita dan informasi biasa. Tetapi semua informasi yang berujung pada kewajiban. Hidup di kampung bukan menjadi urusan sendiri. Hidup itu sosial. Terikat dengan yang lain. Selalu bersama dengan orang lain. Pada saat seorang bermasalah, jangan takut, karena ada orang lain ikut merasakan dan selalu siap ringan tangan membantu. Demikian juga sebaliknya seorang berkewajiban menolong yang lain. Ada hubungan timbal balik.... Kata ti’i pati berarti memberi dan berbagi. Ti’i pati yang berkaitan dengan adat adalah wajib. Itu adalah tidak saja menjadi ungkapan kasih tetapi juga merupakan bentuk demonstrasi harga diri. Ti’i pati dalam adat mauponggo tidak akan pernah berhenti, terus berjalan selama hidup dalam masyarakat. Budaya ti’i pati yang berkaitan dengan adat suatu yang abadi, dan tidak berubah. Hukumnya wajib. Tidak pernah ada toleransi pada kondisi miskin atau kaya. Karena semua manusia sama di depan hukum adat. Hukum adat sebagai tradisi selalu berkaitan dengan ti’i pati. Hal ini merupakan kewajiban yang tidak bisa ditolak. Tradisi adat adalah warisan leluhur. Melanggar adat berarti mencederai hukum sama artinya dengan mengucilkan diri dari pergaulan masyarakat adat. Sebagai perbuatan memberi dan berbagi, orang mauponggo tahu apa yang terbaik dilakukan demi harga diri. cengkeh, kakao, , dan kopra hanya cerita. uang hasil panen hanya numpang lewat. Semua hasil jerih payah habis untuk melunaskan utang adat...

11 Jul 2015

MOSA LAKI NAGEKEO

Mosalaki (mosadaki) itu adalah gelar yang diberikan pada seorang lelaki di Nagekeo, tapi tidak semua orang laki-laki disebut mosadaki. Mosadaki (mosalaki) berasal dari kata mosa (jantan dan besar) dan daki atau laki (jenis kelamin laki). Seorang mosadaki sesungguh memiliki sifat kejantanan itu. Seorang mosadaki memiliki keberanian dan kesatriaan. Dia harus mampu membela dan melindungi. Karena itu dalam berbagai urusan adat terutama pada saat menghadapi masalah, seorang mosadaki berada di depan dan menjadi seorang organisator dan pemimpin kelompoknya. Mosa tana laki watu Mosalaki selalu dikaitkan dengan tanah dan kepemilikannya. Ketokohan mosalaki karena statusnya sebagai pemilik tanah atau tuan tanah. Karena itu mosalaki disebut mosa tana laki watu. Sebagai pemilik maka mosalaki memiliki otoritas dalam urusan adat dan urusan tanah.Dilihat dari sisi ini maka mosalaki sesungguhnya dilahirkan. Seorang menjadi mosalaki karena berasal dari turunan mosalaki, seorang pemilik tanah. Dia adalah putera seorang mosalaki. Mosalaki adalah putera pilihan, bukan hanya karena seorang anak mosalaki. Putera seorang tuan tanah atau mosalaki belum tentu menyandang panggilan mosalaki. Karena seorang mosalaki memiliki kriteria atau atribut lebih. Memiliki jiwa yang satria dan jiwa kepemimpinan (waka nga). Ine tana ame watu: Mosalaki sebagai pemilik utama tanah disebut juga dengan ine tana ame watu. Mosalaki kelas ini adalah putera turunan langsung dari pemilik sebuah wilayah atau yang disebut pula sebagai ta ngala ngga’e (pemilik) atau ta ngala tanah watu (pemilik tanah). Ine ku ame lema: Dalam skala yang lebih kecil ada penguasa sebahagian tanah garapan (ku lema). Pada masa lalu tanah-tanah masih kosong. Siapa saja dalam suku yang mengolah tanah diakui sebagai pemilik lahan (ku lema). Pemilik lahan dalam skala kecil disebut ine ku ame lema. Karena meraka masih dalam garis keturunan pemilik tanah maka kewenangan dan kepemilikannya diakui sebgai tuan tanah dalam skala yang terbatas. Mereka tetap tunduk pada Ine tana ame watu. Pengakuan ku lema (lahan olahan) berdasarkan pada kondisi lahan yang sudah penuh dengan tanaman ekonomis berupa tanaman kelapa (nio) dan pinang (eu). Orang Keo selalu menanam pohon-pohon tanaman jangka panjang bernilai ekonomis ini pada pinggir- pinggir batas tanah olahan. Pengakuan kepemilikan atas lahan olahan berdasarkan kondisi nio tiko eu tako (daun pohon kelapa dan pinang saling bersambungan di sekitar lahan). Tuka babho Seorang mosalaki harus mampu memimpin dan mempengaruhi orang lain. Seorang mosalaki harus memiliki kemampuan menjadi tuka mbabho (juru runding). Sebagai juru runding (tuka mbabho) seorang mosalaki harus memiliki kemampuan untuk mendengar, menganalisa serta mencari kesimpulan untuk mencari solusi. Tuka mere kambu kapa Karena itu seorang mosalaki harus memiliki tuka mere kabu kapa. Tuka mere kabu kapa adalah sebuah istilah yang menjelaskan sifat seorang mosadaki harus sabar dan memiliki daya tahan. Dia harus memiliki tuka mere (perut besar) untuk mampu menerima masukan dan kambu kapa (lilitan lemak tebal) agar siap menampung dan menahan segala emosi. Semua ucapan dan tindakan seorang mosadaki harus memiliki dasar yang jelas dan melewati pertimbangan yang matang. Mosa tuka tiba laki mata laci Seorang mosadaki adalah seorang juru runding yang bijaksana dan adil. Seorang mosalaki adalah mosa tuka timba daki mata daci. Dia harus mampu menimbang secara benar dan seimbang (adil) seperti pertemuan dua mata timbangan. Setiap keputusan mosadaki harus tidak memihak. Harus memperlihatkan dan mendahulukan keadilan. Mosalaki pongga rore mosalaki Seorang mosalaki bukan sekedar pemimpin, tetapi juga seorang yang punya semangat berkorban. Masyarakat tidak menghargai mosa tungga ko’o punu (mosadaki yang hanya tahu bicara), karena mosadaki harus mosa ne’e odo tau (mosa dalam tindakan). Masyarakat menilai mosadaki yang hanya tahu bicara tetapi tidak pernah berbuat sebagai mosa ka daki pesa (mosadaki yang hanya tahu makan atau menikmati). Mosa nua laki ola Mosalaki sebagai tan ngala mbu’u atau ta ngala tana watu (tuan tanah) dia menjadi mosa nua laki ola (pemuka dalam kampung). Mosa nua laki oda bukan tunggal tetapi semua orang-orang terpandang karena keturunan dan kepemilikan atas lahan serta pengaruh karena charisma-kharsima istimewa. Mereka ini yang memiliki hak suara dan pengambil keputusan dalam urusan adat serta tanah. Mosa ulu mere eko lewa (adapun kesalahan penulisan dalam bahasa daerah (bahasa adat) mohon dikoreksi bersama.. segala tambahan mengenai adat istiadat Negekeo sangat diharga dan diterima... terima kasai) molo............

4 Okt 2014

SUKU LAPE (mbay_nagekeo)


WILAYAH TANAH LAPE

Orang Lape mengakui batas tanah mereka  sebelah timur  Ulu tana li, lange Toto (di tanah li berbatasan dengan Toto) dan   di bagian barat eko kela ngeta  lange Bare, berbatasan dengan Bare.  Sebelah selatan logo be’I keli di Amegelu (gunung Lambo) dan ujung utara a’I  deli mesi (sampai ke bibir pantai )laut Flores.  


ASAL USUL ORANG LAPE                                                    
Tidak ada  catatan yang pasti.Tetapi orang Lape mewariskan cerita turun temurun  Hitungan bisa diperkirakan dari masa tegaknya peo. Dengan adanya 7 (tujuh) kali mendirikan Peo, maka  diperkirakan orang Lape sudah menghuni tempat ini sekitar 500 tahun. Menurut cerita turun temurun orang Lape berasal dari Tiwu Lewu,  satu daerah  di wilayah Lio Utara  yang berubah menjadi danau (tiwu)  akibat banjir bandang  yang melanda sampai menenggelamkan rumah-rumah penduduk.  Tujuh keluarga besar melarikan diri, mengungsi ke arah barat.Mereka pertama kali menetap di  Malasera, , bukit sebelah timur gereja Dangadekat lokasi Perumahan jabatan sekarang.
Orang Lape kemudian pindah ke tempat yang lebih tinggi.  Perpindahan itu berawal dari sebuah peristiwa alam.  Dari kejauhan ada yang melihat air mengucur dari atas sangat banyak. Ada yang menyangka seperti air terjun.  Mereka akhirnya bergerak kesana. Ternyata yang menjadi sumber air adalah tetesan air  dari mayang pohon lontar. Mereka kemudian membangun pemukiman sederhana di  dekat sebuah rumpun bamboo aur (guru pire).
Suatu ketika  seekor ayam jantan piaraan mereka berlari ke suatu tempat dan hinggap  di atas pohon waru. Ayam itu terus bertengger di sana dan mengeluarkan suara kokok yang  aneh seolah-olah mengatakan ‘mai dia’ (mari kesini).  Suara kokok berulang-ulang ini ditafsrikan sebagai penggilan bagi orang Lape untuk bergerak dan pindah. Dan kemudian mereka menemukan tempat tersebut sangat ideal sebagai lokasi aman untuk kampung.  Lokasi ini dirasa aman karena berada di tempat yang tinggi dengan sedikit bertebing sebelah timur. Inilah lokasi kampung Lape tempat mereka menetap  sampai sekarang.
Ketujuh keluarga besar itu akhirnya menetap di kampung Ola Lape, yang mereka sebut juga Ola Waja. Sebuah kampung yang tidak sekedar tempat tinggal, tetapi juga memiliki daya magis mempersatukan  ketujuh keluarga  besar itu.
Tujuh suku Lape adalah:
1.      Suku Ko dengan kepala soma Laga Tawa
2.      Suku Naka Nawe dengan kepala soma Jo Pobo
3.      Suku RogaWawo dengan kepala soma Goa Wonga
4.      Suku Roga Au dengan kepala soma Ru Wona
5.      Suku Nakazale dengan kepala soma  Wawo Buu Tawa
6.      Suku Woe Renge dengan kepala soma Hanoy
7.      Suku Naka Zale Au dengan kepala soma Ala Wula
Ketujuh suku ini dipersatukan dengan membangun Peo.  Dalam sejarahnya suku Lape telah mendirikan 7 (tujuh) Peo.  Dalam menjalankan aktivitas besar orang Lape selalu bersandar pada leluhur mereka. Mereka selalu berdoa dan minta petunjuk pada leluhur mereka. Terutama dalam membangun Peo. Peo dibangun selalu berdasarkan petunjuk leluhur yang dihadirkan dalam mimpi. Orang Lape memberi nama peo setiap kali mereka dirikan.
Nama Peo dan nama warga yang mendapat petunjuk untuk mendirikan peo sebagai berikut:
1.        Peo LILA ULU atasdasarpetunjukmimpi kepada Ebu SabuTawa
2.       Peo  WOY  TEY atas dasar petunjuk mimpi kepada Ebu PukuTey
3.       Peo WANGA WEA atas dasar petunjuk mimpi kepada Ebu Sera  Tey
4.       Peo  NAGO NUA atas dasar petunjuk mimpi kepada Ebu Busu Lama
5.       Peo PANGO MAU atas dasar petunjuk mimpi kepada Ebu Sawu Gamo
6.       Peo  WONGA WULA atas dasar petunjuk mimpi kepada Ebu Kota Lama
7.       Peo  SUPI LAPE  atas dasar petunjuk mimpi kepada Ebu Papu Bara

Dasar Belis (NageKeo)


Setiap suku memiliki adat dan budaya serta peraturan yang tertuang dalam hukum adat berbeda-beda. Dalam adat dan budaya Indonesia umumnya dan Nagekeo khususnya, pengikatan janji sehidup semati dalam perkawinan secara hukum adat dipahami mengandung dampak kerugian bagi pihak wanita secara pribadi dan keluarganya. Makanya pihak lelaki mempunyai kewajiban untuk memberikan ganti atau kompensasi atas kerugiaan ini. Kompensasi ini yang disebut dengan mahar atau mas kawin.
Mahar atau Mas kawin adalah harta yang diberikan oleh pihak mempelai laki-laki (atau keluarganya) kepada mempelai perempuan (atau keluarga dari mempelai perempuan) pada saat pernikahan. Mahar aatau mas kawin ini dikenal dengan istilah belis atau dalam bahasa Nagekeo ‘tau ngawu’. Ngawu berarti benda atau harta.
Sebaliknya bila pemberi mahar adalah pihak keluarga atau mempelai perempuan, sebagai imbalan atas pemberian pihak lelaki disebut dengan istilah sundo bhando (beri balasan) Secara antropologi, belis atau tau ngawu adalah bentuk lain dari transaksi jual beli sebagai kompensasi atas kerugian yang diderita pihak keluarga perempuan karena kehilangan beberapa faktor pendukung dalam keluarga seperti kehilangan tenaga kerja, dan berkurangnya tingkat fertilitas dalam kelompok.
Bicara tentang kompensasi atas kerugian dilihat dari dua sisi:
Keluarga: kehilangan faktor pendukung tertutama kehilangan tenaga kerja serta tingkat kesuburan (fertilitas) dalam kelompoknya). Ada sesuatu yang diambil dari haknya.
Bagi wanita secara pribadi adalah seolah merelakan diri dan melepaskan semua harga dirinya. Bahkan dianggap kehilangan harga dirinya akibat ulah mempelai laki-laki terhadap mempelai perempuan. Kehadiran seorang lelaki dalam kehidupan pribadi wanita dianggap seperti manu kale kata (ayam yang mengais dan mengacak sangkar) dan melakukan tindakan merusak ibarat topo kai kaja (parang yang membelah dan merusak dinding). Wanita mengorbankan harga diri dan menderita, karena itu pihak lelaki juga harus memberikan jenis mas kawin yang disebut dengan Wea Solo. Wea Solo adalah emas perhiasan sebagai penghibur (solo) atas penderitaannya.

Tentang MosaLaki (Nagekeo)


Mosalaki (mosadaki) itu adalah gelar yang diberikan pada seorang lelaki di Nagekeo, tapi tidak semua orang laki-laki disebut mosadaki. Mosadaki (mosalaki)  berasal dari kata mosa (jantan dan besar) dan daki atau laki (jenis kelamin laki). Seorang mosadaki sesungguh memiliki sifat kejantanan itu. Seorang mosadaki memiliki keberanian dan kesatriaan.  Dia harus mampu membela dan melindungi. Karena itu dalam berbagai urusan adat terutama pada saat menghadapi masalah, seorang mosadaki berada di depan dan menjadi seorang organisator dan pemimpin kelompoknya.

Mosa tana laki watu
Mosalaki selalu dikaitkan dengan tanah dan kepemilikannya. Ketokohan mosalaki karena statusnya sebagai pemilik tanah atau tuan tanah. Karena itu mosalaki disebut mosa tana laki watu.  Sebagai pemilik maka mosalaki memiliki otoritas dalam urusan adat dan urusan tanah.Dilihat dari sisi ini maka mosalaki sesungguhnya dilahirkan. Seorang menjadi mosalaki karena berasal dari turunan mosalaki, seorang pemilik tanah.  Dia adalah putera seorang mosalaki. Mosalaki adalah putera pilihan, bukan hanya karena seorang anak mosalaki.  Putera seorang tuan tanah atau mosalaki belum tentu menyandang panggilan mosalaki. Karena seorang mosalaki memiliki kriteria atau atribut lebih.  Memiliki jiwa yang satria dan jiwa kepemimpinan (waka nga).

Ine tana ame watu:
Mosalaki  sebagai pemilik utama tanah disebut juga dengan ine tana ame watu. Mosalaki kelas ini adalah putera turunan langsung dari pemilik sebuah wilayah atau yang disebut pula sebagai ta ngala ngga’e (pemilik) atau ta ngala tanah watu (pemilik tanah).

Ine ku ame lema:
Dalam skala yang lebih kecil ada penguasa sebahagian tanah garapan (ku lema).  Pada masa lalu tanah-tanah masih kosong. Siapa saja dalam suku yang mengolah tanah diakui sebagai pemilik lahan (ku lema).  Pemilik lahan dalam skala kecil disebut ine ku ame lema. Karena meraka masih dalam garis keturunan pemilik tanah maka kewenangan dan kepemilikannya diakui sebgai tuan tanah dalam skala yang terbatas. Mereka tetap tunduk pada Ine tana ame watu.  Pengakuan ku lema (lahan olahan) berdasarkan pada kondisi lahan yang sudah penuh dengan tanaman ekonomis berupa tanaman kelapa  (nio) dan pinang (eu). Orang Keo selalu menanam pohon-pohon tanaman jangka panjang bernilai ekonomis ini pada pinggir-pinggir batas tanah olahan.  Pengakuan kepemilikan atas lahan olahan berdasarkan kondisi nio tiko eu tako (daun pohon kelapa dan pinang saling bersambungan di sekitar lahan).

Tuka babho
Seorang mosalaki harus mampu memimpin dan mempengaruhi orang lain. Seorang mosalaki harus memiliki kemampuan menjadi tuka mbabho (juru runding). Sebagai juru runding (tuka mbabho) seorang mosalaki harus memiliki kemampuan untuk mendengar, menganalisa serta mencari kesimpulan untuk mencari solusi.

Tuka mere kambu kapa
Karena itu seorang mosalaki harus memiliki tuka mere kabu kapa. Tuka mere kabu kapa adalah sebuah istilah yang menjelaskan sifat seorang mosadaki harus sabar dan memiliki daya tahan. Dia harus memiliki tuka mere (perut besar) untuk mampu menerima masukan  dan kambu kapa (lilitan lemak tebal) agar siap menampung dan menahan segala emosi. Semua ucapan dan tindakan seorang mosadaki harus memiliki dasar yang jelas dan melewati pertimbangan yang matang.

Mosa tuka tiba laki mata laci
Seorang mosadaki adalah seorang juru runding yang bijaksana dan adil. Seorang mosalaki adalah mosa tuka timba daki mata daci. Dia harus mampu menimbang secara benar dan seimbang (adil) seperti pertemuan dua mata timbangan. Setiap keputusan mosadaki harus tidak memihak. Harus memperlihatkan dan mendahulukan keadilan.

Mosalaki pongga rore mosalaki
Seorang mosalaki bukan sekedar pemimpin, tetapi juga seorang yang punya semangat berkorban. Masyarakat tidak menghargai mosa tungga ko’o punu (mosadaki yang hanya tahu bicara), karena mosadaki harus mosa ne’e odo tau (mosa dalam tindakan).  Masyarakat menilai mosadaki yang hanya tahu bicara tetapi tidak pernah berbuat sebagai mosa ka daki pesa (mosadaki yang hanya tahu makan atau menikmati).

Mosa nua laki ola
Mosalaki sebagai tan ngala mbu’u atau ta ngala tana watu (tuan tanah) dia menjadi mosa nua laki ola (pemuka dalam kampung). Mosa nua laki oda bukan tunggal tetapi semua orang-orang terpandang karena keturunan dan kepemilikan atas lahan serta pengaruh karena charisma-kharsima istimewa. Mereka ini yang memiliki hak suara dan pengambil keputusan dalam urusan adat serta tanah.

Mosa ulu mere eko lewa

(adapun kesalahan penulisan dalam bahasa daerah (bahasa adat) mohon dikoreksi bersama.. segala tambahan mengenai adat istiadat Negekeo sangat diharga dan diterima... terima kasai)

molo............

Kain Tenun Nagekeo (Luka Bay)


Di Nagekeo berkembang dua macam proses tenun. Proses pete (ikat) dan proses wo’i (sulaman). Pete dan wo’i adalah cara membuat pola pada bahan tenun. Luka bay (ragi bay) sebutan kain adat dimaupongo..
Ketika belum ada zat pewarna kimia, orang kampung menggunakan tanam perdu yang disebut tarum (talu dalam bahasa Mau) atau taru dalam bahasa Ende. Tarum menghasilkan warna biru. Caranya mudah saja. Daun-daun tarum (talu/taru) bersama tangkai-tangkai kecil direndam beberapa hari dalam wadah.Wadah terbuat dari tanah liat berbentuk periuk tetapi dengan bukaan yang lebar. Karena itu bila tidak ada, orang menggunakan periuk tanah yang di pecah bagian atas. Bukaannya harus lebar untuk leluasa memasukkan material yang yang akan diwarnai. Benang yang telah diikat sesuai dengan pola yang dinginkan kemudian direndam minimal 2 hari dalam periuk berisis tarum.



Untuk memperoduksi larutan pewarna  butuh waktu  beberapa hari bahkan sampai satu minggu.  Daun-daun tarum direndam dalam air  kemudian membusuk dan mengeluarkan warna yang gelap (indigo blue).  Warna hitam kebiruan, berwana biru tua (deep blue) akan menyerap pada benang-benang ini.  Setelah benang diangkat dan dijemur sampai kering kemudian ikatan-ikatan pola dilepaskan. Maka akan kelihatan warna putih pada bekas ikatan. Bila ingin diberi warna kuning maka benang sekali lagi dicelup pada warna yang dinginkan.


Saya sendiri belum pernah menyaksikan bagaimana warna hitam dihasilkan oleh para penenun tradisional di wilayah Boawae. Di wilayah ini dikenal dengan hoba nage, atau orang pantai menyebutnya dawo pote. Ciri bahwa kain itu masih baru dengan adanya ujung benang lusi dibarkan terurai dan di pilin. Di pesisir selatan di wilayah Maubare, Daja, Mauromba dan Maundai semua mencelup benang dalam larutan tarum.  Bau rendaman tarum mengeluarkan bau basi, yang lumayan bisa bikin mabuk bagi yang tidak biasa.  Kalau tarum untuk warna hitam atau biru, maka warna terang yaitu warna kuning diperoleh dari kembo atau kaju kune. Kembo atau kaju kune adalah pohon mengkudu.  Dan yang digunakan adalah akar pohonnya dan terkadang dahan atau batang pohonnya. Kayu-kayunya di dibelah dan dipotong kecil kemudian direbus dan  direndam bersama benang.Hasilnya   warna kuning kemerahan atau jingga.


Keterbatasan mendapatkan zat warna ini yang membuat semua hasil tenun Nagekeo  selalu berwarna hitam dan kuning saja.  Itulah zat warna yang ada dan  biasa dipakai. Karena berlangsung puluhan tahun, maka dianggap sebagai ciri khas tradisi seni tenun.Tenun ikat pantai selatan disebut dawo ende. Ini merujuk asal dari kebiasaan ikat dan pewarnaan benang serta tenun. Ini tenun khas berasal dari Ende. Dan tenun ikat untuk dawo ende ini hanya ibu-ibu yang beragama Islam. Tenun woi tradisi asli orang Nagekeo.
Kami mengadakan pendekatan dengan penenun di Maundai untuk coba mengembangkan tenun ikat. “Repot sekali” demikian katanya. Proses tenun ikat memang jauh lebih rumit. Karena benang lusi harus dibuat pola dengan mengikat kemudian dicelup dalam larutan pewarna.   Tetapi tenun ikat bisa lebih luwes dalam mengaplikasi pola. Karena itu tidak heran   bila di Daja, Mauromba dan Maundai tidak pernah lagi tercium aroma  endapan  tarum. Dan tentu tidak ada lagi orang yang menenun dawo ende. Semuanya didatangkan dari luar Nagekeo. Tidak ada yang melihat ini sebagai peluang usaha. Ibu-ibu di pantai selatan lebih banyak mengenakan dawo ende, tetapi semuanya berasal dari kabupaten Ende. Pemerintah daerah harus punya kiat sendiri untuk menghidupkan kembali kerajinan tenun ikat (pete senda) di wilayah kabupaten Nagekeo, khususnya di wilayah Keo Tengah (Daja, Mauromba dan Maundai serta Maunori) dan  Nagaroro ( Maunura, Maubare, Tonggo, Pombo). Ini juga salah satu cara mengurangi ketergantungan suplai  kain sarung dawo ende dari Ende dan Pulo.

10 Okt 2013

KAU ADALAH BARANGKALI YG AKU AMINKAN BERKALI KALI

Pada beberapa doa yang sengaja bisu,
aku merapal aksara namamu satu per satu,
supaya tak ada cinta yang jatuhnya keliru.

Pada pertemuan antara masing-masing telapak tangan,
kualamatkan permohonan demi permohonan pilihan, supaya tak ada doa yg tersesat menuju Tuhan atau diaminkan oleh yg lebih membutuhkan...

Pada hati yang baru saja ku jatuh,
kuletakkan harapan-harapan utuh;
supaya separuhku yang tersisa terisi penuh....

18 Sep 2013

Nelayan FLORES,ROTE deng SABU

Tiga orang tukang peminum lagi duduk-duduk di pak laru sambil bacarita dong pung daereah masing-masing pung kehebatan. Satu eja Flores, satu to'o Rote, yang satu le ama Sabu. Eja Flores; "Kami di Flores, nelayan jago-jago semua. Kalo sudah duduk di atas sampan, tinggal sumbur ludah saja ke atas itu air laut, langsung ikan datang banyak-banyak berebut umpan!" To'o Rote sonde mau kalah; "katong di Rote sana son parlu naek sampan. Tinggal pi badiri sa di pante, ikan rama-rama datang tanya; to'o ada ikan ko?..." Ama Sabu diam sa.....sonde lama bagini ama pung hapa bunyi. Ama angkat baca sms. Ama langsung pamit; "Aduh.....eja deng to'o...beta minta maaf ow...beta pulung dulu. Ini ikan-ikan dong su sms beta bilang; bos datang sudah katong samua su kumpul ni..! .."


 INVATE B pung PIN e.. 23343e20 (Jos INF) #mikir

16 Sep 2013

SAKSI FALAI


Hakim : Saudara Amin kenal dengan tersangka?
Amin : Tidak pak
hakim : loh.. anda tidak kenal dng orang dalam foto ini..
amin : oh... itu namanya chaker pa bukan tersangka..
hakim : jadi anda kenal dng orang ini..
amin : tidak pak...
hakim : loh tadi katanya kenal..
amin : oh itu kenal pak namanya chaker bukan orang ini..
Hakim : Jadi Anda kenal dengan saudara chaker?
Amin : Tidak pak
Hakim : Ellllho! Tadi katanya kau kenal!
Saksi : Sama chaker kenal pak, sama saudaranya tidak...
Hakim : (mendadak strug...)

INvate b PUNG PIN DO 23343E20

Hanya Lu yg Beta Punya

HANYA LU YANG BETA PUNYA

Laki bini ada bakalai.

Bini: "Kanapa sonde bilang dari dulu kalo lu ini miskin hah??!!"

Laki: "Beta kan suda bilang, cuma lu sa yang sonde mengerti."

Bini: "Memangnya dulu lu bilang apa?"

Laki: "Beta bilang, cuma lu sa satu-satunya yang beta punya di dunia ini..."

Bini: "Gubraaakkkk!!??"          

YANG TERLUPAKAN

kopi susu beralkohol 40%. gelas ketiga.
detik-detik terbang bersama ingatan yang semakin merdeka; menjelajah ruang berdebu di kepala. menghembuskan angin — menghembuskan kau kembali. pada kenangan-kenangan yang jauh. jauh. memabukkan.
**
“sayang, aku hamil.”
“apa?! bagaimana bisa?”
“kau lelaki. aku wanita. kau punya sperma. aku punya indung telur. sederhana.”
“tapi aku punya keluarga!”
“akupun.”
“keluarga! istri dan anak-anakku!”
“keluarga; ayah dan ibuku. dan mereka punya muka, untuk diselamatkan dari kisah bodoh anak gadisnya yang hamil tanpa suami.”
“sayang, mengertilah, ini tidak sesederhana itu.”
“aku tau. maka itu aku memberitahumu.”
“ah.. gila!”
“ya. gila. aku nyaris gila.”
“sayang, kita harus membereskan ini. meniadakannya.”
**

denting piano
kala -jemari menari
nada merambat pelan
di kesunyian malam
saat datang rintik hujan
bersama setiap bayang
yang pernah terlupakan

s'ribu kata menggoda
s'ribu sesal di depan mata
seperti menjelma
saat aku tertawa
kala memberimu dosa

ooo...maafkanlah
ooo...maafkanlah

rasa sesal di dasar hati
diam tak mau pergi
haruskah aku lari dari
kenyataan ini
pernah kumencoba tuk sembunyi
namun senyummu
tetap mengikuti

Pages

Template by : kendhin x-template.blogspot.com